F0GAxlSUN0OEmaFkMbnca2nyh81gHBssC6AV9hGe
Bookmark

Materi 50 – Salah dalam Memahami Tawakal

Materi 50 – Salah dalam Memahami Tawakal - Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati

Materi 50 – Salah dalam Memahami Tawakal

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita mengetahui bahwasanya hakikat tawakal yang sesungguhnya adalah menggabungkan antara menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ikhtiar. Karenanya jika salah seorang hanya menyandarkan kepada salah satunya, melakukan salah satu dari keduanya, maka dia telah bersalah dalam memahami tawakal.

Sebagai contoh, sebagian orang yang ketika mengharapkan sesuatu, dia lupa untuk ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lupa untuk menyadarkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia hanya bertawakal kepada sebab-sebab materi yang ada di depannya sehingga dia bertawakal kepada kemampuannya. Dia bertawakal kepada bosnya, harapan dan hatinya hanya terikat kepada pekerjaannya, hatinya terikat kepada perusahaannya, seakan-akan semua keberhasilan melalui sebab-sebab tertentu.

Oleh karenanya, siapa yang dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari/ berusaha untuk meraih tujuannya hanya bersandar kepada sebab, dia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang ini telah jauh dari tawakal. Dan saya pernah sampaikan bahwasanya sebagian orang seperti ini.

Ketika dia berobat, tawakalnya kepada dokter, seakan-akan dokter ini yang menyembuhkan dia. Dia tidak terbetik dalam hatinya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan. Makanya jika ada yang bertanya kepada dia, “Kamu Alhamdulillah sembuh?” Dijawab: “Iya, sebab dokter itu,” dia lupa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya dia mengatakan: “Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan izin-Nya memberi kemudahan bagi dokter untuk menyembuhkan aku,” tapi dia lupa. Karena selama ini hatinya disandarkan kepada sebab.

Ketika seseorang berhasil, dia bersandar kepada sebab. Dan ini adalah satu kesalahan.

Dan orang-orang yang biasanya terjerumus dalam hal ini adalah orang yang lupa kepada Allah, yang lalai dari beribadah, yang sibuk dengan dunia, tidak pernah belajar agama, sehingga akhirnya hati mereka benar-benar tergantung kepada sebab-sebab. Mereka menyangka keberhasilannya karena sebab-sebab tersebut.

Jadi ini model pertama yang salah dalam tawakal yang hanya bersandar kepada sebab, lupa kepada Sang Musabbib (Arab: مسبب), Sang Pencipta Sebab dan Akibat, Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesalahan yang kedua, sebaliknya. Yaitu sekelompok orang yang hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa berusaha, ini juga salah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk ikhtiar. Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam melakukan banyak hal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu berikhtiar.

Ketika Perang Uhud, misalnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ikhtiarnya luar biasa. Beliau pakai baju perang sampai dua baju perang. Sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermusyawarah dengan para sahabat tentang apa yang harus mereka lakukan, apakah mereka keluar ke Uhud menunggu musuh ataukah mereka bertahan dalam kota Madinah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dan musyawarah adalah salah satu bentuk ikhtiar.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusan.” (QS. Ali-Imran[3]: 159)

Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud benar-benar mengambil segala ikhtiar. Beliau memakai baju perang double, sebelumnya beliau bermusyawarah, setelah itu meletakkan pasukan pemanah 50 orang yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair di atas Jabal Rumat dan mengatur strategi. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Jangan sampai kalian turun apapun yang terjadi.”

Jadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar melakukan ikhtiar.

Demikian juga dalam Perang Khandaq. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berusaha ikhtiar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian menggali khandaq dengan panjang berkilo-kilo, dengan lebar 5 meter, dengan kedalaman kira-kira 5 meter. Ini usaha/ikhtiar. Kenapa khandaq-nya harus lebar dan dalam? Yaitu agar kuda musuh tidak bisa melewati. Sehingga mereka membuat khandaq (parit) yang sangat besar sebagai bentuk usaha dalam meraih keberhasilan. Ini banyak dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karenanya jika seseorang tidak memandang sebab, dia hanya mengatakan: “Semuanya terserah Allah,” dia tidak melakukan sebab. Maka sebagian orang mengatakan bahwa orang seperti ini akalnya tidak wajar dan dia tidak akan bisa komitmen. Maka kita nasihati orang seperti ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan hukum sebab dan akibat yang disebut sunnatullah.

Kita mengakui hukum tersebut dan kita tahu bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan akibat tapi melalui sebab dan akibat.

Apakah mungkin seseorang punya anak tapi tidak menikah? Kalau kita bilang “mungkin kalau Allah memberikan mukjizat,” maka mungkin. Tapi kita melihat hukum sebab-akibat, namanya ingin punya anak ya nikah dulu, terus berhubungan dengan istri, kemudian lama-lama baru bisa punya anak. Jangankan demikian, bahkan sebagian orang sudah menikah tidak bisa punya anak. Yang kita tahu bahwasanya yang menentukan hasil adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi ada hukum sebab akibat.

Kita katakan kepada orang seperti ini bahwa bukankah rezeki dan ajal sudah tercatat? Kalau rezeki sudah tercatat kenapa kamu kerja? Kenapa kamu cari makan? Ya sudah di rumah saja. Kenapa kalau sakit berobat kalau memang kita mengatakan tawakal yang benar hanya bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak usah berusaha?

Kita juga mengatakan bahwa bukankah sudah ditentukan surga dan neraka? Lalu kenapa kamu shalat? Kan sudah ditentukan surga dan neraka? Maka kita jawab, ketika dia ingin shalat berarti dia berikhtiar untuk masuk surga.

Oleh karenanya, orang yang mengatakan tidak perlu melihat sebab, kita hanya menyandarkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak akan bisa komitmen. Kita katakan bahwa kalau kau komitmen, yasudah jangan bekerja, jangan juga ibadah, bukankah surgamu/ nerakamu telah tercatat? Percuma jika kau beribadah ternyata masuk neraka.

Sama, kau tidak perlu mencari makan karena makan juga adalah ikhtiar. Kesana kesini, beli kue, beli makan, dan ini juga ikhtiar.

Dan orang yang menolak sebab ini saya katakan tadi bahwa seakan-akan akalnya agak terganggu dan ini bertentangan dengan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berikhtiar.
Post a Comment

Post a Comment

Aturan berkomentar:
- Afwan, komentar yang mengandung link hidup dan spam akan kami remove.
- Silahkan ikuti blog ini untuk update info terbaru kami, dengan cara klik Follow+
- Silakan berikan komentar. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.