F0GAxlSUN0OEmaFkMbnca2nyh81gHBssC6AV9hGe
Bookmark

Materi 32 – Cara Melawan Ujub Bag.3

Materi 32 – Cara Melawan Ujub Bag.3 - Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati

Materi 32 – Cara Melawan Ujub (3)

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkara ketiga yang perlu kita renungkan agar kita melawan ‘ujub yaitu kita mau ‘ujub dengan amal shalih kita (anggaplah amal shalih kita diterima), namun di sana ada hal-hal yang bisa menggugurkan amal shalih kita.

3. Perkara yang membatalkan amal shalih

Al-Imam Ibnul Qayyim pernah berkata:

وليس الشأن في العمل، إنما الشأن في حفظ العمل مما يفسده ويحبطه

“Bukan perkaranya engkau beramal shalih, tetapi perkara yang paling penting adalah kamu menjaga amalmu jangan sampai amalmu menjadi rusak atau menjadi gugur.”

Karena amal shalih bisa gugur, bisa rusak. Allah telah mengingatkan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Al-Baqarah 264:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian batalkan sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan orang yang kau sedekahi.” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)

Jadi sedekah bisa batal kalau bisa menyakiti hati orang yang kita sedekahi atau kita sebut-sebut sana-sini.

Demikian juga misalnya dalam ayat yang lain Allah mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi. Dan janganlah kalian mengeraskan suara kepadanya seperti kalian berbicara dengan yang lainnya. Bisa jadi amalan kalian gugur sementara kalian tidak sadari.” (QS. Al-Hujurat[49]: 2)

Ini Allah mengingatkan bahwasanya di zaman para sahabat ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup, ada orang yang mengangkat suara di hadapan Nabi atau berbicara keras dengan Nabi, maka bisa jadi amalannya gugur. Berarti amalan bisa gugur. Demikian juga zaman sekarang meskipun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah meninggal dunia, bisa jadi orang meremehkan hadits Nabi, membantah hadits Nabi, bisa jadi membuat amalannya gugur.

Demikian juga dalil yang menunjukkan amalan bisa gugur seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa meninggalkan shalat ashar maka telah gugur amalannya.” (HR. Bukhari)

Demikian juga dalam hadits ketika seorang sahabat bernama Zaid bin Arqam melakukan transaksi dengan riba, yaitu sistem ‘inah. Maka ‘Aisyah mengingatkan kepada sahabat tersebut, ‘Aisyah berkata:

انه قد ابطل جهاده مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ان لم يتب

“Sesungguhnya Zaid bin Arqam telah membatalkan pahala jihadnya bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali jika dia bertaubat.”

Bayangkan, riba bisa menggugurkan amal shalih.

Ini semua renungan bagi kita bahwasanya mau kita banggakan amal shalih kita? Sudah bangun masjid, bisa berbakti sama orang tua, kita sudah bantu keluarga, kita tidak tahu amal shalih kita ini masih bertahan, masih ada catatannya (ada pahala) atau tidak? Bisa jadi sudah gugur tanpa kita sadari.

Maka seorang jangan ‘ujub jika dia tahu bahwasanya amal shalihnya tidak terjamin di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian juga di antara hal yang mungkin kita renungkan agar kita tidak ‘ujub adalah jangan kita merasa bangga di hadapan orang lain. Kita harus ingat, bukankah yang paling utama dalam penilaian adalah amalan hati? Dalam hadits, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إنَّ اللَّه لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلا إِلَى أجْسادِكُمْ، ولكنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعْمَالِكُمْ

“Allah tidak melihat kepada rupa kalian, kepada paras kalian, kepada fisik kalian, tapi yang Allah lihat adalah hati kalian dan amalan kalian.”

Coba kita renungkan, kita kalau bertemu dengan orang lain, mungkin kita bisa menilai secara dzahir. Secara dzahir saya lebih rajin ke masjid daripada dia, secara dzahir saya lebih sering ikut pengajian daripada dia, secara dzahir dia lebih banyak maksiat daripada saya. Thayyib, (anggaplah kita mau menilai) kita hanya menilai secara dzahir. Tapi siapa yang bisa menilai dan membandingkan antara hati kita dengan hati dia? Bukankah di sana amalan-amalan besar yang lebih utama ada di dalam hati? Mungkin kita begini tapi kita ‘ujub ternyata dia ikhlas meskipun amalannya sepele, mungkin ketika kita terkena musibah kita tidak sabar sementara dia sabar, kita tidak tahu.

Belum lagi kita berkaitan dengan amalan-amalan yang kita tidak lihat dari dia. Ternyata dia meskipun orangnya kayak agak begitu tapi ternyata dia berbakti sama orang tuanya, ternyata dia sangat perhatian sama karib kerabatnya, ternyata dia sangat perhatian sama keluarganya, kita tidak tahu. Ternyata orangnya tidak hasad, tidak dengki, luar biasa dia punya amalan yang besar.

Makanya kenapa kita merasa lebih tinggi daripada orang lain? Bahkan mungkin ketika kita bertemu dengan pembantu kita, supir kita, belum tentu kita lebih baik daripada dia, dia mungkin sabar, bekerja keras menjadi seorang pembantu untuk membantu keluarganya, dia mengirim hak gajinya buat keluarganya dengan susah payah. Kita tidak tahu pahalanya seperti apa di sisi Allah. Dia rela bekerja keras yang hasilnya diberikan kepada orang lain dan banyak orang-orang seperti itu.

Oleh karenanya apa yang mau kita ‘ujubkan? Mau kita bandingkan, kita merasa lebih tinggi daripada orang lain? Belum tentu! Orang lain mungkin kelihatannya penampilannya biasa-biasa tapi bisa jadi dia lebih baik daripada kita.

والله أعلم بالصواب

Post a Comment

Post a Comment

Aturan berkomentar:
- Afwan, komentar yang mengandung link hidup dan spam akan kami remove.
- Silahkan ikuti blog ini untuk update info terbaru kami, dengan cara klik Follow+
- Silakan berikan komentar. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.