F0GAxlSUN0OEmaFkMbnca2nyh81gHBssC6AV9hGe
Bookmark

Materi 12 – Bahaya Riya

Materi 12 – Bahaya Riya’ - Kelas UFA - Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati
getutubethumb

Materi 12 – Bahaya Riya’

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah kita memahami tentang ikhlas dan juga faedah-faedahnya, maka kita harus menjaga keikhlasan ini. Karena ikhlas perlu perjuangan dan menjaga keikhlasan juga perlu perjuangan yang lebih. Maka segala penyakit-penyakit/kotoran-kotoran yang bisa menghancurkan keikhlasan atau mengotori keikhlasan kita, maka kita harus hindari.

Di antara penyakit yang paling berbahaya yang bisa merusak keikhlasan kita adalah dua penyakit besar yaitu riya’ dan ujub. Dan semacam dengan riya’ adalah sum’ah.

Dua penyakit ini bukan menimpa orang-orang yang tidak shalih, yang tukang maksiat, tetapi justru dua penyakit ini menyerang orang-orang yang shalih, yang memiliki kelebihan dalam amal shalih, yang rajin bersedekah, yang rajin shalat, yang rajin berdakwah, yang rajin ikut pengajian, justru mereka ini adalah orang-orang yang rawan terkena penyakit ujub dan riya’.

Karena kalau pelaku maksiat, apa yang mau dia riya’-kan, apa yang mau dia ujub-kan dari maksiat yang dia lakukan?

1. Riya’ dan Sum’ah

Apa maksudnya riya’ dan sum’ah?

Riya’ diambil dari kata الرؤية (ru‘yah), yaitu melihat. Kemudian dijadikan fi’il muta‘addi (kata kerja yang memerlukan objek) menjadi

راءى – يرائ – رياء

Yang artinya memperlihatkan. Tadinya melihat menjadi memperlihatkan. Jadi riya’ itu artinya memperlihatkan, yaitu memperlihatkan amal shalih kepada orang lain. Dan kata-kata riya’ dalam Al-Qur’an banyak.

Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بطَرًا وَرِئَاءَ النَّاس…

“…Seperti orang kafir yang keluar ketika berperang dalam kondisi sombong dan riya’…” (QS. Al-Anfal[8]: 47)

Demikian juga kata Allah:

كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Seperti orang yang berinfak karena riya’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)

Di sini Allah menyebutkan kata riya’. Demikian juga Allah sebutkan dalam bentuk fi’il mudhari’: يُرَاءُونَ النَّاسَ Allah menyebut tentang orang-orang munafik yang kalau shalat mereka يُرَاءٌ (mereka riya’).

Demikian juga:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾

“Celakalah orang-orang yang shalat yang mereka lalai dalam shalat mereka dan mereka melakukan riya’.” (QS. Al-Ma’un[107]: 4)

Riya’ adalah memperlihatkan amalan, mirip dengan sum’ah. Sum’ah artinya memperdengarkan amalan. Jadi kalau riya’ dengan memperlihatkan amalan dia dengan penglihatan, adapun sum’ah memperkenalkan amalannya kepada orang lain dengan mendengarkan.

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ

“Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya karena ingin dipuji, maka Allah akan bongkar niat buruknya tersebut pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh seorang dia bersedekah kemudian dia cerita: “Saya kemarin sedekah di sana, saya bersedekah di sini,” ini namanya sum’ah. Dia shalat malam kemudian cerita: “Saya shalat malam, bangun jam sekian,” yaitu dalam rangka untuk dipuji, ini disebut dengan sum’ah. Dua hal ini adalah satu pembahasan, yaitu sama-sama ingin agar orang tahu amal yang dia lakukan.

Riya’ ini adalah dosa besar dan sangat berbahaya karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakannya dengan syirik. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakan dengan syirik khafi (syirik yang samar), terkadang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan syirik sarair (syirik yang tersembunyi).

Riya’ ini lebih berbahaya daripada fitnahnya Dajjal. Kenapa bisa demikian? Suatu hari para sahabat sedang berkumpul dan mereka sedang berbicara tentang fitnah Dajjal yang sangat berbahaya yang muncul di akhir zaman yang bisa menurunkan hujan dari langit dan bisa menumbuhkan tanah yang tandus dan luar biasa kesaktian Dajjal. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu fitnah yang lebih aku khawatirkan daripada fitnah Dajjal?” Kata para sahabat: “Tentu Ya Rasulullah, fitnah apakah itu?” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ

“Syirik yang samar.”

Apa maksudnya syirik yang samar? Ternyata riya’.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan:

يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ؛ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إِلَيْهِ

“Seseorang berdiri kemudian dia shalat, dia bagus-baguskan shalatnya karena dia tahu ada orang sedang memperhatikan dia shalat.”

Ini contoh, ini namanya syirik khafi (syirik yang tidak terlihat). Seseorang yang memandang orang ini, dia menyangka orang ini ikhlas. Tapi Allah Maha Tahu, karena riya’ tersebut tersembunyi, tidak nampak, tapi Allah tahu dia sedang riya’. Ini syirik yang berbahaya dan lebih berbahaya daripada fitnah Dajjal. Kenapa lebih berbahaya dari fitnah Dajjal?

Kata para ulama karena fitnah Dajjal hanya muncul di akhir zaman, adapun riya’ bisa muncul setiap saat dan bisa menimpa siapa saja dan kapan saja.

Dajjal muncul di akhir zaman yang kita belum tentu mendapati fitnah Dajjal, mungkin kita meninggal sebelum Dajjal muncul. Tapi kalau riya’, kita bisa menghadapi penyakit riya’ setiap saat.

Yang kedua, insyaAllah kalau orang beriman maka bisa terhindar dari fitnah Dajjal. Tetapi kalau riya’, justru seringnya menyerang orang-orang beriman. Dan bahkan bisa jadi seorang tidak sadar bahwa dirinya dalam kondisi riya’, dia menyangka bahwasanya amal dia banyak ternyata tidak ada nilainya sama sekali. Hal ini karena saking halusnya riya’ tersebut.

Perhatikan bagaimana buruknya perumpamaan riya’ yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Baqarah ayat 264, kata Allah:

كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’.”

وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat.”

Perumpamaan orang yang berinfak karena riya’ itu seperti apa?

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ

“Maka perumpamaan mereka seperti batu yang licin/halus tapi di atasnya ada tanah.”

فَأَصَابَهُ وَابِلٌ

“Tiba-tiba ditimpa hujan yang deras.”

فَتَرَكَهُ صَلْدًا

“Maka hilang semua tanah yang ada di atas batu tersebut, yang tersisa hanyalah batu yang licin.”

لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا

“Mereka tidak menguasai satupun dari apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)

Ini perumpamaan yang luar biasa. Maksudnya apa?

Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya orang yang melakukan riya’, pada hakekatnya adalah amalnya tidak diterima. Seperti batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman. Kalau menumbuhkan tanaman butuh dengan tanah. Tetapi orang kalau lihat dari luar batu tersebut ada tanah di atasnya. Orang-orang menyangka ini tanah yang subur, mudah ditanami dengan tanaman. Ternyata tidak, tanah itu hanya berada di atas batu yang halus. Buktinya ketika terkena hujan, maka hilanglah semua tanah tersebut dan yang tersisa hanyalah batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman. Maka demikianlah orang-orang yang riya’, dia menyangka bahwasanya amalan dia subur, mudah menumbuhkan pahala, dan orang pun melihat seperti itu. Orang lihat dan mengatakan: “MasyaAllah orang ini..” ternyata kosong, tidak ada isinya sama sekali. Dia terpedaya dan orang-orang juga terpedaya. Inilah bahayanya riya’, syirik yang samar, bisa jadi pelakunya tidak sadar.

Demikian juga orang-orang di sekitarnya tidak sadar, menyangka dia orang shalih, menyangka amalannya banyak, menyangka pahalanya banyak, ternyata seperti batu yang licin dan tidak bisa menumbuhkan tetumbuhan sama sekali.

والعياذ بالله والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Post a Comment

Post a Comment

Aturan berkomentar:
- Afwan, komentar yang mengandung link hidup dan spam akan kami remove.
- Silahkan ikuti blog ini untuk update info terbaru kami, dengan cara klik Follow+
- Silakan berikan komentar. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.