Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Audio ke-168: Pembahasan tentang Salam dan Wajibnya Salam (At Taslim)

Audio ke-168: Pembahasan tentang Salam dan Wajibnya Salam (At Taslim)
📖 Whatsapp Grup Islam Sunnah | GiS
☛ Pertemuan ke-198
🌏 https://grupislamsunnah.com/
🗓 RABU, 29 Rabi'ul Akhir 1444 H / 23 November 2022 M
👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى
📚 Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah

💽 Audio ke-168: Pembahasan tentang Salam dan Wajibnya Salam


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus kitab yang ditulis oleh Asy Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta'ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Jamaah sekalian rahimani wa rahimakumullah,

Syaikh Al-Albani rahimahullahu Ta'ala mengatakan,

[ التَّسْلِيمُ ] - At-Taslim

Inilah bab yang terakhir, yaitu bab tentang Salam.

ثم ❲ كَانَ ﷺ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ ❳

Kemudian, "Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, selalu bersalam ke bagian kanannya" Assalamu'alaikum warahmatullah, dengan mengucapkan:

[ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ]
Assalaamu'alaikum warahmatullah

❲ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الْأَيْمَنِ ❳
"sampai putihnya pipi Beliau yang bagian kanan terlihat"

❲ وَعَنْ يَسَارِهِ : [ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ] ❳
"dan untuk yang bagian kirinya (Beliau mengucapkan salam): Assalaamu'alaikum warahmatullah"

❲ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الْأَيْسَرِ ❳
"sampai putihnya pipi kiri Beliau tampak."
Ini untuk memberikan penekanan bahwa menolehnya itu benar-benar sempurna. Bukan hanya tolehan yang sedikit saja, tidak. Benar-benar menoleh dengan sempurna, sehingga pipi Beliau yang kanan kiri semuanya terlihat oleh makmum. Ketika menoleh ke kanan, maka pipi yang bagian kanan ini dilihat oleh makmum. Begitu pula ketika menoleh ke kiri, pipi yang bagian kiri dilihat oleh makmum.

Ini maksud disebutkan:

❲ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الْأَيْسَرِ ❳
"Sampai pipi kiri Beliau benar-benar terlihat putihnya."

وَكَانَ أَحْيَانًا يَزِيْدُ فِي التَّسْلِيْمَةِ الْأُوْلَى : ❲ وَبَرَكَاتُهُ ❳

"Dan kadang-kadang Beliau di salam yang pertama menambah: wabarakaatuh" (menambah kata-kata "wabarakatuh")
Jadi ketika salam yang pertama,

[ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ ]
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Kemudian yang kedua,

[ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ]
Assalaamu’alaikum warahmatullah

Ini dalam riwayat yang sahih yang lain. Tapi seringnya Beliau:

[ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ؛ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ]
Assalaamu’alaikum warahmatullah; Assalaamu’alaikum warahmatullah
Tapi kadang-kadang Beliau tambahi yang pertama "wabarakaatuh", yang kedua tidak ada, tidak ada tambahan itu. Jadi kalau menambah "wabarakaatuh" untuk yang pertama, maka yang kedua tidak usah menambah "wabarakaatuh" karena riwayatnya demikian. Tambahan "wabarakaatuh" hanya di salam pertama.

وَكَانَ إِذَا قَالَ عَنْ يَمِيْنِهِ : [ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ ] اِقْتَصَرَ أَحْيَانًا عَلَى قَوْلِهِ عَنْ يَسَارِهِ : [ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ ] ،

Beliau di sini mengatakan,
"Dan ketika Beliau bersalam ke kanannya membaca: Assalaamu’alaikum warahmatullah; kadang-kadang ketika ke kiri atau ketika salam untuk bagian kirinya Beliau hanya mengatakan Assalaamu’alaikum."
Tidak ada tambahan "warahmatullah". Ini dalam riwayat yang lain.

وَأَحْيَنًا ❲ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً وَاحِدَةً : [ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ ] تِلْقَاءَ وَجْهِهِ ، يَمِيْلُ إِلَى الشِّقِّ الْأَيْمَنِ شَيْئًا أَوْ قَلِيْلًا. ❳

Terkadang Beliau hanya bersalam sekali saja dengan mengucapkan Assalaamu’alaikum menghadap ke depan, tapi mencong sedikit ke kanan. Beliau mengarahkan wajahnya ke arah kanan tapi hanya sedikit. Dan hanya sekali saja.

Namun yang riwayat yang kedua ini diperselisihkan oleh para ulama. Riwayat yang kedua ini yang hanya salam sekali saja, ini diperselisihkan oleh para ulama, sehingga lebih baik kita hindari. Keluar dari khilaf lebih baik.

❲ الْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ ❳
"Keluar dari khilaf para ulama itu dianjurkan."
Kalau kita lihat, yang disebutkan oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala ada beberapa cara:
  1. Assalaamu’alaikum warahmatullah; assalaamu’alaikum warahmatullah.
  2. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh; assalaamu’alaikum warahmatullah.
  3. Assalaamu’alaikum warahmatullah; assalaamu’alaikum.
  4. Assalaamu’alaikum. Hanya sekali dan memiringkan wajahnya ke kanan juga hanya sedikit.
Namun saya sudah katakan tadi, cara yang terakhir ini diperselisihkan oleh para ulama keabsahan riwayatnya, sehingga sebaiknya jangan kita lakukan. Kalau ada yang melakukan, tidak ada masalah. Tapi keluar dari khilaf para Ulama itu lebih baik.
Wallahu Ta'ala a'lam.

وَ كَانُوْا يُشِيْرُوْنَ بِأَيْدِيْهِمْ إِذَا سَلَّمُو عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ ، فَرَآهُمْ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ

Dahulu para sahabat, ketika mereka bersalam ke kanan dan ke kiri, mereka menggunakan tangan-tangan mereka untuk memberikan isyarat. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika melihatnya, Beliau mengatakan,

❲ مَا شَئْنُكُمْ تُشِيْرُوْنَ بِأَيْدِيْكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ ❳
"Kenapa kalian memberikan isyarat dengan tangan-tangan kalian, seakan-akan tangan-tangan kalian itu adalah ekor kuda liar."

❲ إَذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ ؛ ❳

Beliau mengingkari apa yang dilakukan oleh para sahabat. Kemudian Beliau memberikan tuntunan yang lebih bagus dari itu.

❲ إَذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ ؛ ❳
"Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan salam,"

❲ فَلْيَلْتَفِتْ إِلَى صَاحِبِهِ ، وَلَا يُوْمِئْ بِيَدِهِ ❳
"maka menolehlah ke temannya dan tidak usah memberikan isyarat dengan tangannya."

❲ فَلَمَّا صَلَّوْا مَعَهُ أَيْضًا لَمْ يَفْعَلُوْا ذَلِكَ ❳
"Ketika mereka para sahabat shalat bersama Beliau, mereka tidak melakukan hal tersebut."

( وَفِيْ رِوَايَةٍ : )
"Di dalam riwayat yang lain:"

❲ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ❳

"Sebenarnya cukup salah seorang dari kalian untuk meletakkan tangannya di atas pahanya kemudian mengucapkan salam kepada saudaranya ke sebelah kanannya dan ke sebelah kirinya."
◻️ Kemudian Beliau membahas tentang wajibnya salam.

[ وُجُوْبُ السَّلَامِ ]

Bahwa: "Salam itu Wajib"

وَكَانَ ﷺ يَقُوْلُ : ❲ ... وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ ❳

Dahulu Rasulullahu Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan bahwa, "Sesuatu yang menjadikan shalat selesai adalah salam."

Tahliil itu maksudnya: menjadikan seseorang dalam keadaan halal, dalam keadaan bebas lagi adalah salam. Makanya ada Takbiratul Ihram.

Tahriim : sesuatu yang menjadikan seseorang dalam keadaan haram, dalam keadaan tidak boleh melakukan sesuatu yang asalnya boleh.

Takbiratul ihram adalah takbir yang menjadikan seseorang menjadi dalam keadaan haram.

Haram maksudnya: dia tidak boleh melakukan sesuatu yang asalnya dibolehkan.
  • Yang tadinya boleh makan, setelah takbiratul ihram dia tidak boleh makan;
  • Yang tadinya boleh minum, setelah takbiratul ihram dia tidak boleh minum;
  • Tadinya boleh ngobrol, setelah takbiratul ihram tidak boleh ngobrol.
Inilah yang dimaksud dengan kata-kata "ihram", takbir yang menjadikan seseorang dalam keadaan haram, melakukan sesuatu yang asalnya dihalalkan.

Tahliil juga demikian, ya kebalikannya.
Yang menjadikan seseorang halal; menjadikan seseorang bebas melakukan sesuatu yang di dalam shalat diharamkan.
  • Di dalam shalat tidak boleh makan, ketika sudah salam boleh makan;
  • Di dalam shalat tidak boleh minum, ketika sudah salam boleh minum;
  • Di dalam shalat tidak boleh ngobrol, setelah salam boleh ngobrol.
Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════

Post a Comment for "Audio ke-168: Pembahasan tentang Salam dan Wajibnya Salam (At Taslim)"