Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Audio ke-73 Pembahasan Dalil Pertama Tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Mencintai Dan Dicintai Bagian 03 - Bukti Cinta Tidak Berbuat Bid'ah

Audio ke-73 Pembahasan Dalil Pertama Tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala  Mencintai Dan Dicintai Bagian 03 - Bukti Cinta Tidak Berbuat Bid'ah
🌐 WAG Dirosah Islamiyah Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
🗓 RABU| 28 Rabi’ul Akhir 1444 H | 23 November 2022 M
🎙 Oleh : Ustadz DR. Abdullah Roy M.A. حفظه الله تعالى
🔈 Audio ke-73

📖 Pembahasan Dalil Pertama Tentang Allāh Subhānahu wa Ta’āla Mencintai Dan Dicintai (Bagian 03)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله و اصحابه، ومن والاه

Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.

Masih kita pada pasal beriman kepada Allāh.

Anggota grup whatsapp Dirasah Islamiyyah, yang semoga dimuliakan oleh Allāh.

Banyak di sana keutamaan-keutamaan orang yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, disebutkan dalam hadits qudsi bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla, apabila mencintai seseorang,

وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ
“Apabila dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan.”
Karena dia dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dicintai oleh Allāh dengan sebab ittiba' dia kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dengan sebab ketakwaannya, dengan sebab ihsannya, dan dengan sebab taubatnya.

Kalau dia meminta kepada Allāh, maka Allāh akan memberikan.

وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ
"Dan kalau dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.”
Meminta perlindungan kepada Allāh dari musibah, dilindungi oleh Allāh. Meminta perlindungan kepada Allāh dari kesesatan, dilindungi oleh Allāh dari kesesatan tersebut.

Meminta diberi, meminta perlindungan dilindungi, bukankah ini keutamaan yang besar, yang seharusnya kita sebagai seorang muslim berlomba-lomba untuk mendapatkan kecintaan Allāh bukan berlomba-lomba untuk mendapatkan kecintaan manusia, bukan berlomba-lomba untuk mendapatkan pujian dari manusia.

Lalu apa yang yang kita tunggu?

Alhamdulillah, Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memberitahukan kepada kita bagaimana kunci untuk mendapatkan kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yaitu dengan mengikuti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Sebaliknya di sana ada sebagian orang yang dia justru membuat sesuatu yang baru di dalam agama ini, menyelisihi cara Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam sebuah ibadah misalnya, mengada-adakan cara yang baru di dalam ibadah baik berupa dzikir atau shalat.

Membuat cara yang baru di dalam ibadah, mungkin dengan menentukan waktunya yang tidak ditentukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, menentukan jumlahnya yang tidak ditentukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Kemudian dia mengatakan bahwasanya ini adalah bentuk kecintaan saya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dibalik perkaranya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyatakan bahwasanya kecintaan Allāh adalah dengan ittiba' Rasul.

Sebagian mengatakan, cinta kepada Allāh justru dengan membuat sesuatu yang baru di dalam agama.

Maka ini adalah perkara yang terbalik, seharusnya kalau dia cinta kepada Allāh, cinta kepada Rasul, seharusnya dia mengikuti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tidak membuat perkara baru di dalam agama.

Bid'ah di dalam agama, sesuatu yang baru di dalam agama adalah celaan bukan menunjukkan kecintaan. Celaan terhadap Al-Qurān dan Sunnah (dua-duanya sekaligus).

1. Celaan terhadap Al-Qurān

Bagaimana bisa demikian? Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengatakan di dalam Al-Qurān.

ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ
[QS Al-Maidah: 3]

Pada hari ini aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian. Hari ini, (kurang lebih 1400 tahun yang lalu) telah disempurnakan agama ini. Maka orang yang membuat sesuatu yang baru (sekarang), yang tidak pernah diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada hakekatnya dia telah mencela apa yang ada di dalam Al-Qurān.

Allāh mengatakan, "Aku sempurnakan", kemudian dia masih menambah. Seakan-akan belum sempurna agama yang Allāh turunkan. Maka ini pada hakikatnya adalah celaan terhadap Al-Qurān, seakan-akan Al-Qurān tidak benar (Na'udzu billahi min dzalik).

2. Celaan terhadap Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ketika seseorang melakukan bid'ah di dalam agama, ada dua kemungkinan.
  • Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak tahu tentang bid'ah tadi.
  • Beliau tahu tapi tidak menyampaikan.
Kemungkinan pertama Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak tahu, ini adalah celaan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau adalah أَعْلَمُ النَّاسِ، بِهَذِهِ الشريعة "orang yang paling tahu tentang syari'at", beliau adalah seorang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Bagaimana kita lebih tahu daripada Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam? Tidak mungkin!

Orang yang mengatakan atau melakukan bid'ah di dalam agama seakan-akan dia mengatakan, "Aku lebih tahu daripada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam", sehingga dia membuat perkara yang baru di dalam agama ini.

Kemungkinan kedua, dia mengatakan, "Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengetahuinya, tetapi beliau tidak menyampaikan", jika demikian parah juga. Kalau dia meyakini bahwasanya beliau tahu tetapi tidak menyampaikan kepada umat, maka ini dinamakan dengan khianat, tidak menyampaikan risalah Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus beliau kepada kita tujuannya untuk menyampaikan wahyu dari Allāh. Kalau tidak disampaikan sebagiannya, berarti ini khianat.

Kata Allāh:

بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ
"Hendaklah engkau sampaikan apa yang diturunkan kepadamu.” [QS Al-Maidah: 67]
Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

"Sesungguhnya tidak ada seorang nabi sebelumku kecuali wajib baginya untuk mengingatkan umatnya kebaikan yang dia tahu dan mengingatkan mereka kejelekan yang dia tahu.”
Amanah, kewajiban seorang nabi adalah menyampaikan kebaikan yang dia tahu. Kalau seseorang mengatakan,"Beliau tahu tetapi tidak menyampaikan", sama saja dia telah menuduh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mencela Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mensifati Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan khianat secara tidak sadar.

Al-Imam Malik bin Anas guru dari Al-Imam Asy-Syafi'i (semoga Allāh merahmati semua) beliau mengatakan:

مَن ابتدع في الإسلام بدعةً يراها حسنة، فقد زعم أن محمداً صلى الله عليه وسلم خان الرسالة
“Barangsiapa membuat bid'ah di dalam agama maka sungguh dia telah menuduh (menyangka) bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
Ini adalah penjelasan dari Imam Malik. Hakikat dari orang yang membuat bid'ah di dalam agama, ada kemungkinan yang tadi kita sebutkan.

Kalau dia meyakini bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tahu tetapi beliau tidak menyampaikan maka ini adalah celaan kepada Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari sisi bahwasanya beliau tidak menyampaikan seluruh risalah Allāh Azza wa Jalla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menurunkan wahyu dan syari'at dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menyampaikan, maka kewajiban kita adalah mengikuti.

Berkata Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah:

من الله الرسالة وعلى رسول الله صلى الله عليه وسلم البلاغ وعلينا التسليم

Risalah adalah dari Allāh, Allāh yang menurunkan dan kewajiban Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam adalah menyampaikan dan beliau sudah melakukan yang demikian, tinggal sekarang kewajiban kita.

و علينا تسلم

Dan kewajiban kita untuk menyerahkan diri kita, mengikuti apa yang sampai kepada kita.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini dan In sya Allāh kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya pada waktu dan keadaan yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•

Post a Comment for "Audio ke-73 Pembahasan Dalil Pertama Tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala Mencintai Dan Dicintai Bagian 03 - Bukti Cinta Tidak Berbuat Bid'ah"