F0GAxlSUN0OEmaFkMbnca2nyh81gHBssC6AV9hGe
Bookmark

Audio ke-15: Sejarah Perubahan Arah Kiblat

Transkrip Audio ke-15: Sejarah Perubahan Arah Kiblat
📖 Whatsapp Grup Islam Sunnah | GiS
☛ Pertemuan ke-43
🌏 https://grupislamsunnah.com/
🗓 JUM'AT, 21 Syawal 1444 H / 12 Mei 2023 M
👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى
📚Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah

💽 Audio ke-15: Sejarah Perubahan Arah Kiblat


السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلهِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syekh Al-Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya).

Baiklah, kita lanjutkan kajian kita.

Mualif rahimahullah sekarang (akan) menjelaskan tentang bagaimana sejarah menghadap kiblat ini.

Dahulu di awal Islam, kiblat shalat adalah Baitul Maqdis. Kemudian setelah itu dipindah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke Masjidil Haram.

وَ ❲ كَانَ ﷺ يُصَلِّيْ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ـ [ وَالْكَعْبَةُ بَيْنَ يَدَيْهِ ] ـ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَ هَذِهِ الْآيَةِ : { قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ } ، فَلَمَّا نَزَلَتْ اسْتَقْبَلَ الْكَعْبَةِ ❳
“Beliau ﷺ pernah shalat menghadap Baitul Maqdis di awal-awal Islam dan menjadikan Ka'bah berada di antara Beliau dengan Baitul Maqdis”
Ini kenapa demikian? Karena Rasulullah mencintai Masjidil Haram dan Rasulullah sangat berharap Masjidil Haram menjadi kiblat kaum Muslimin. Makanya ketika Rasulullah di Mekah, shalatnya selalu menghadap ke Masjidil Haram sekaligus menghadap ke Baitul Maqdis.

Jadi Rasulullah selalu demikian, karena kecintaan Beliau kepada Masjidil Haram tersebut. Sehingga di samping Rasulullah menghadap ke Baitul Maqdis, Beliau juga menghadap ke Masjidil Haram.

Yang diwajibkan kepada Beliau ketika itu adalah menghadap ke Baitul Maqdis saja. Tapi Rasulullah ﷺ karena kecintaan Beliau kepada Masjidil Haram, melakukan demikian; menjadikan antara Beliau dengan Masjidil Aqsha ada Masjidil Haram.

Sebelum diturunkannya ayat ini, Beliau dahulu menghadap ke Baitul Maqdis di awal-awal Islam sementara ka’bah di depan Beliau, sebelum diturunkannya ayat ini yaitu ayat yang artinya:
“Kami melihat wajahmu Muhammad, sering menengadah ke langit (berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah mengalihkan kiblat kaum Muslimin). Maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.”
Diijabahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala doanya.
"Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram."
Transkrip Audio ke-15: Sejarah Perubahan Arah Kiblat
ini perintah dan semua perintah menunjukkan kewajiban. Sehingga kita wajib untuk menghadap ke kiblat, yaitu ke Masjidil Haram sekarang.

Tatkala turun ayat ini, Beliaupun menghadap ke arah Ka'bah. Sementara itu, waktu orang-orang yang berada di Quba..

Ini menjelaskan tentang bagaimana keadaan para sahabat ketika itu. Sahabat Rasulullah ﷺ di Madinah berpencar-pencar (ada kerumunan-kerumunan masyarakat). Ada yang di Masjid Nabawi, mereka punya masyarakat, kemudian berpisah. Ada yang di Masjid Quba, ada yang di Masjid Bani Salimah (Masjid Qiblatain). Jadi ada tempat-tempat kerumunan masyarakat, sehingga ketika ayat turun di masyarakat yang ada di Masjid Nabawi, belum tentu langsung sampai ke masyarakat yang ada di Masjid Quba. Dan inilah yang terjadi ketika turun ayat untuk menghadap ke Masjidil Haram dalam shalat.

.. Sementara itu, waktu orang-orang yang berada Quba sedang melaksanakan shalat Subuh, (jadi ayatnya turunnya malam hari, beritanya belum sampai ke masyarakat yang ada di Quba dan mereka ketika itu shalat dengan syariat yang belum diganti, jadi asalnya syariatnya menghadap ke Baitul Maqdis, mereka menghadap ke sana) ketika shalat Subuh tersebut, tiba-tiba datang seseorang seraya mengabarkan bahwa telah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ Al-Qur'an pada malam itu yang memerintahkan Beliau agar menghadap ke Ka'bah. "Karena itu hendaklah kalian menghadapnya juga."

Ketika itu mereka masih menghadap ke arah Syam. Arah Syam ini kalau di Madinah arahnya ke utara, karena "Syam" itu dari kata-kata "syamal", arah syam/arah utara. Lalu mereka pun memutar. Jadi yang arahnya asalnya ke utara karena mereka di masjid Quba (ini di Madinah) berbalik ke selatan. Jadi berbalik penuh. Yang asalnya ke utara sekarang menghadap ke selatan, karena Ka'bah itu di bagian selatan Madinah.

Lantas Imam mereka memutar hingga menghadap ke arah Ka'bah bersama mereka.

Bagaimana Imamnya ini?
Yang asalnya di paling depan menjadi paling belakang. Jadi harus ada gerakan. Ini yang menunjukkan bahwa gerakan, walaupun banyak, kalau di dalam shalat dan untuk menyempurnakan shalat tidak masalah.

Yang tadinya Imam di paling belakang, dia harus berjalan ke depan. Inilah yang terjadi di zaman Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak ada yang mengingkari sama sekali. Ini menunjukkan gerakan di dalam shalat walaupun banyak tapi untuk kemaslahatan shalat maka diperbolehkan.

Seperti misalnya kalau ada HP berdering, jangan dibiarkan, tapi tutup langsung karena itu berhubungan dengan maslahat shalat. Kalau tidak dimatikan langsung, berapa kaum muslimin yang shalatnya terganggu. Apalagi kalau yang berdering adalah dangdutan, maka bisa bergoyang semua orang yang ada di masjid dan ini mengganggu kekhusyukan orang dalam shalat. Tidak hanya satu orang yang diganggu, seluruh masjid.

Maka kalau kita, misalnya HP kita berdering, segera dimatikan, karena hal itu termasuk maslahat shalatnya. Atau melihat ular, untuk membunuhnya dahulu kemudian setelah itu diteruskan shalatnya karena ini membahayakan dan ini membahayakan shalatnya orang itu juga.

Maka dibolehkan untuk melakukan gerakan walaupun banyak kalau berhubungan dengan maslahat shalat, dan ada kebutuhan yang mendesak untuk itu. Sebagaimana sahabat Nabi Muhammad ﷺ ketika shalat di Quba, Imamnya melakukan gerakan yang banyak.

Seperti ini juga misalnya ketika orang tidak bisa duduk dengan duduknya orang shalat, dia boleh untuk melakukan gerakan-gerakan. Misalnya ketika mau duduk dia harus memposisikan dirinya untuk (misalnya) duduk bersila, atau kakinya tidak ditekuk, kakinya lurus, tapi dia masih mampu untuk berdiri. Maka ketika dia berdiri maka dia harus berdiri, tapi ketika akan sujud karena dia harus menenuk (tapi) tidak bisa, maka dia ketika itu langsung duduk dalam keadaan kaki dipanjangkan. Ini memerlukan gerakan yang banyak tapi karena gerakan ini untuk maslahat shalatnya, maka tidak apa-apa, tidak masalah, tidak mempengaruhi sah shalatnya.

Inilah keindahan Islam. Inilah Islam yang sangat memudahkan pemeluk-pemeluknya tapi tetap menjaga maslahat pemeluknya untuk akhiratnya.

Jadi, Islam mengapa memerintahkan kita untuk beribadah, bukankah beribadah ini ada yang berat?

Karena Islam menginginkan kita mendapatkan pahala di akhirat. Ini maslahat akhirat kita. Tapi ketika ada kesulitan-kesulitan dalam melakukan ibadah tersebut, Islam memberikan kemudahan. Indah bukan?

Islam memperhatikan maslahat kita di dunia juga memperhatikan maslahat kita di akhirat. Kalau Islam membolehkan kita untuk tidak beribadah, maka apa yang terjadi? Bekal kita di akhirat menjadi sedikit. Agar bekal kita di akhirat banyak, ada amalan-amalan yang diwajibkan. Kalau kurang banyak, ada amalan-amalan yang disunahkan.

Inilah indahnya Islam, memberikan kemaslahatan kepada pemeluknya; maslahat dunia dan maslahat akhirat.

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════
Post a Comment

Post a Comment

Aturan berkomentar:
- Afwan, komentar yang mengandung link hidup dan spam akan kami remove.
- Silahkan ikuti blog ini untuk update info terbaru kami, dengan cara klik Follow+
- Silakan berikan komentar. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.