Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Audio ke-124: Pembahasan tentang Bertumpu dengan Tangan ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya - Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi

Audio ke-124: Pembahasan tentang Bertumpu dengan Tangan ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya - Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi
๐Ÿ“– Whatsapp Grup Islam Sunnah | GiS
☛ Pertemuan ke-154
๐ŸŒ https://grupislamsunnah.com/
๐Ÿ—“ KAMIS 26 Shafar 1444 H / 22 September 2022 M
๐Ÿ‘ค Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
๐Ÿ“š Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah

๐Ÿ’ฝ Audio ke-124: Pembahasan tentang Bertumpu dengan Tangan ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya


ุงู„ุณَّู„َุงู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ.

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ูˆَุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ูˆَุงู„ุณَّู„َุงู…ُ ุนَู„َู‰ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ، ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ุชَุจِุนَ ู‡ُุฏَุงู‡ُ.

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus kitab yang ditulis oleh Asy Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta'ala. Kitab tersebut adalah kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Jamaah sekalian rahimani wa rahimakumullah,

Syaikh Al-Albani rahimahullahu Ta'ala mengatakan,

[ ุงู„ْุฅِุนْุชِู…َุงุฏُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْูŠَุฏَูŠْู†ِ ูِูŠ ุงู„ู†ُّู‡ُูˆْุถِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ]

"Bertumpu dengan kedua tangan ketika bangkit berdiri ke rakaat selanjutnya"

ุซُู…َّ ❲ ูƒุงู†َ ๏ทบ ูŠَู†ْู‡َุถُ ู…ُุนْุชَู…ِุฏًุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุฑَّูƒْุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉُ ❳

"Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bangkit ke rakaat kedua sambil bertumpu pada tanah atau lantai"

Maksud beliau, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika berdiri itu mendahulukan lututnya sebelum tangannya. Jadi mengangkat lututnya dahulu kemudian baru tangan. Ini juga masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.

Jumhur ulama mengatakan, yang lebih dahulu tangannya kemudian baru lutut. Ini pendapat mayoritas ulama. Pendapat Syafi'iyah demikian, begitu pula pendapatnya Hanabilah, begitu pula pendapatnya Malikiyah.

Sebagian ulama mengatakan, "Yang didahulukan lututnya dulu, baru kemudian tangannya" dan ini pendapatnya mazhab Hanafiyah. Ini juga pendapatnya sebagian Hanabilah. Ini yang dipilih oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala. Pendapat yang kedua lebih kuat dari pendapat yang pertama. Wallahu Ta'ala A'lam.

Audio ke-124: Pembahasan tentang Bertumpu dengan Tangan ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya - Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi
Pendapat yang dipilih oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala di sini lebih kuat berdasarkan hadits Abu Hurairah. Khilaf di sini sama dengan khilaf ketika turun ke sujud. Mana yang didahulukan? Apakah didahulukan tangannya ataukah lututnya ketika dari I'tidal ke sujud. Khilaf di sana sama dengan khilaf di sini. Khilaf yang ada di sini ini karena ada khilaf di sana, masalah turun ke sujud. Mana yang didahulukan?

Kita dalam pembahasan itu merajihkan (menguatkan) pendapatnya Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala yang berdalil dengan hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya untuk meletakkan tangannya dahulu sebelum lututnya. Memang hadits ini diperselisihkan, tapi pendapat yang lebih kuat, hadits tersebut hadits yang kuat bisa dijadikan sebagai hujjah. Beberapa ulama menguatkan hadits tersebut.

Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu lebih kuat dari yang lainnya yang menjelaskan masalah itu. Ketika kita mengatakan di sana, ketika sujud kita mendahulukan tangan dulu sebelum lutut, maka di sini konsekuensinya kita mendahulukan lutut dulu sebelum tangan. Itu konsekuensi kalau kita berpendapat di sana dengan hadits Abu Hurairah, maka di sini kita juga berpendapat dengan haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kalau dari I'tidal kemudian kita mau sujud maka yang kita letakkan dahulu tangannya baru lutut, kemudian sujud. Ini kalau kita dari I'tidal ke sujud. Kalau dari sujud ke berdiri maka kita balik, kita angkat lutut dahulu kemudian tangan. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Pendapatnya jumhur ulama kebalikan. Mereka mengatakan, ketika sujud maka lutut dahulu baru tangan, kemudian ketika berdiri tangan dahulu baru lutut. Ini pendapatnya jumhur ulama.

Pendapatnya Syaikh Albani rahimahullahu Ta'ala yang berdasarkan hadits Abu Hurairah ini lebih ringan dan bisa cocok untuk semua usia. Dan ini yang lebih sesuai dengan keadaan semua manusia, sampai orang yang sudah tua pun dia akan seperti itu.

Orang yang sudah tua, yang sudah lemah, ketika dia sujud maka dia akan mendahulukan tangannya sebelum lututnya. Ketika dia berdiri maka dia akan mendahulukan lututnya sebelum tangannya. Dan ini yang sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa.

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.

ูˆَุงู„ุณَّู„َุงู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ.

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════

Post a Comment for "Audio ke-124: Pembahasan tentang Bertumpu dengan Tangan ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya - Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi"