F0GAxlSUN0OEmaFkMbnca2nyh81gHBssC6AV9hGe
Bookmark

Materi 66 – Pengaruh Pakaian Terhadap Sifat Tawadhu

Materi 66 – Pengaruh Pakaian Terhadap Tawadhu’ - Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati

Materi 66 – Pengaruh Pakaian Terhadap Tawadhu’

🌍 Kelas UFA
🎙 Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada kesempatan kali ini kita akan bahas beberapa hadits yang berkaitan yang tawadhu’, meskipun secara makna saja. Yaitu lafalnya tidak datang dalam lafal tawadhu’, tapi makna/ topiknnya berkaitan dengan tawadhu’.

Hadits pertama yang akan kita bahas adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang bernama Abu Umamah, Iyas bin Sa’labah Al-Anshari Al-Harisi Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

ذَكَرَ أَصْحابُ رَسول اللَّه ﷺ يوْمًا عِنْدَهُ الدُّنْيَا

“Suatu hari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara tentang dunia di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

فَقَالَ رسولُ اللَّه ﷺ: أَلا تَسْمَعُونَ؟ أَلا تَسْمَعُونَ؟ إِنَّ الْبَذَاذَة مِن الإِيمَان، إِنَّ الْبَذَاذَة مِن الإِيمَان …

“Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Dengarkanlah, dengarkanlah, sesungguhnya kesederhanaan sebagian daripada keimanan, sesungguhnya kesederhanaan sebagian daripada keimanan.” (HR. Imam Abu Dawud dalam sunannya, dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullahu Ta’ala)

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Jadi suatu hari para sahabat sedang ngobrol di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang dunia, mungkin tentang pakaian yang bagus, pakaian yang indah, atau barang-barang duniawi yang indah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasihati mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Dengarkanlah, dengarkanlah,” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai mengulanginya dua kali.

أَلا maksudnya itu adalah untuk memberi peringatan, yaitu “Ayo dengarkanlah,” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memotivasi mereka untuk mendengarkan nasihat ini. Sehingga para sahabat tentu mendengar. Setelah itu apa yang didengarkan? Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ الْبَذَاذَة مِن الإِيمَان

“Sesungguhnya kesederhanaan adalah bagian daripada iman.”

Kalimat ini sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ulang dua kali.

Maksud hadits ini adalah seseorang tawadhu’ dengan berusaha memakai pakaian yang sederhana dan meninggalkan pakaian yang mewah meskipun dia mampu untuk membelinya sebagaimana sudah kita jelaskan pada pertemuan yang lalu, yaitu: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian yang mewah padahal dia mampu membeli/memakainya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memakaikan dia dengan pakaian keimanan pada hari kiamat kelak.”

Intinya Rasulullah ingatkan tentang dunia, tentang pakaian yang mewah, pakaian yang mahal hendaknya ditinggalkan, hendaknya seseorang tawadhu’. Hal ini karena pakaian itu punya pengaruh ke dalam hati. Jika seseorang memakai pakaian yang mahal-mahal, asalnya dia mungkin tidak angkuh, tidak merasa tinggi, namun karena dia sering dan selalu bergaya dengan style yang mahal, baik itu pakaiannya, jamnya, kendaraannya, tasnya, sepatunya, maka hal itu akan memasukkan perasaan tinggi dalam hatinya. Dan penampilan luar punya pengaruh dalam batin.

Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang orang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir dari sisi pakaian dan penampilan, Hal ini karena akan menimbulkan sesuatu dalam hati. Entah mencintai mereka, entah senang dengan mereka dan yang lainnya.

Demikian juga misalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang bertasyabbuh dengan orang-orang fasik, demikian juga di antara faedahnya adalah kita tidak seperti mereka, hati kita juga tidak seperti hati mereka.

Maka demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang seseorang berlebih-lebihan dalam berpakaian, karena hal itu bisa menimbulkan sesuatu dalam hati mereka. Karenanya dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Orang-orang yang ketika mereka berinfak, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak juga pelit, tapi di tengah-tengah.” (QS. Al-Furqan[25]: 67)

Adapun orang-orang kafir, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ

“Mereka (orang kafir) dahulu di dunia hidup mewah.” (QS. Al-Waqi’ah[56]: 45)

Maka kalau seorang berlebih-lebihan dalam pakaian, dalam penampilan, maka ini dilarang dalam syariat karena berlebih-lebihan dan di luar daripada kebutuhan.

Ini perlu diingat oleh para wanita yang perhatian terhadap penampilan. Syariat tidak melarang keindahan,

إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Maha indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)

Tetapi jangan sampai keindahan tersebut berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan kembali kemana? Yaitu kembali kepada ‘urf (kebiasaan) masyarakat. Jika berdasarkan ‘urf masyarakat dianggap berlebih-lebihan, maka jangan kita lakukan demikian. Kita tinggalkan sikap berlebih-lebihan tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun kita mampu. Jangan terlalu berlebih-lebihan dalam beli tas, beli jam, pakaian, ini semua adalah sikap yang kurang baik dan bertentangan dengan tawadhu’.

Apalagi laki-laki. Jika wanita yang asalnya diperintahkan untuk berhias demi untuk menyenangkan suaminya, itupun jangan berlebih-lebihan, apalagi laki-laki. Laki-laki dasarnya tidak perlu untuk berhias karena mereka memang tidak dituntut untuk demikian.

Maka jangan sampai berlebih-lebihan dengan pakaian, model pakaian terlalu mewah, kadang-kadang pakai cincin terlalu mewah, bahkan di antara mereka ada yang pakai gelang segala, ada yang pakai kalung segala, tidak perlu seperti itu. Lelaki bukan makhluk yang disuruh untuk berhias, berlebihan. Wanita saja disuruh untuk tawadhu’, apalagi laki-laki.

Intinya, hadits ini mengingatkan bahwasanya pakaian yang mewah, penampilan yang mewah, terlalu waw, ini semua mempengaruhi hati dan bisa mengikis tawadhu’ yang ada dalam hati sedikit demi sedikit, akhirnya berubah menjadi merasa tinggi, merasa angkuh dan yang lainnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari penyakit-penyakit hati.
Post a Comment

Post a Comment

Aturan berkomentar:
- Afwan, komentar yang mengandung link hidup dan spam akan kami remove.
- Silahkan ikuti blog ini untuk update info terbaru kami, dengan cara klik Follow+
- Silakan berikan komentar. Centang kotak "Notify me" untuk mendapatkan notifikasi via email jika ada yang membalas komentar.