Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Audio ke-86 Keadilan dalam Poligami Bagian Kedua - Adil Dalam Nafkah - Fiqih Nikah / Baiti Jannati

Audio ke-86 Keadilan dalam Poligami Bagian Kedua - Adil Dalam Nafkah - Fiqih Nikah / Baiti Jannati
🌐 WAG Dirosah Islamiyah Dewan Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad
🗓 RABU| 28 Rabi’ul Akhir 1444H | 23 November 2022M
🎙 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. حفظه الله تعالى
🔈 Audio ke-086

📖 Keadilan dalam Poligami Bagian Kedua

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد

Kaum muslimin anggota grup Dirosah Islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada satu hal yang sepatutnya kita renungkan bersama. Bila hari, bila dalam urusan pembagian hari kita harus berbuat adil tidak boleh pilih kasih, maka dalam hal yang lebih berarti dibanding hari tentu suami lebih pantas untuk berkewajiban bersikap adil.

Misalnya nafkah, misalnya rumah, misalnya kendaraan, misalnya pakaian, sepatutnya suami bersikap adil, tidak boleh pilih kasih dalam masalah nafkah, dalam masalah pakaian, dan rumah.

Kalau memberi istri pertama 1 unit rumah maka seharusnya dia juga memberi istri kedua satu unit rumah. Kalau istri pertama difasilitasi dengan kendaraan, maka suami harus memfasilitasi istri kedua dengan kendaraan.

Kalau istri pertama difasilitasi dengan nafkah (misalnya) 1 bulan diberi uang belanja spesial untuk istrinya, bukan untuk anak-anaknya, spesial untuk istrinya misalnya 10 juta, maka istri kedua ketiga dan keempat juga mendapatkan hal yang sama.

Sehingga dengan penjelasan para ulama bahwa suami berkewajiban adil dalam masalah pembagian hari itu cukup menjadi bukti, menjadi contoh, bagaimana seorang suami harus bersikap adil. Tidak boleh pilih kasih.

Tentu adil itu bukan berarti harus sama dalam semua urusan, tetapi suami bersikap yang sewajarnya memperlakukan istrinya sama rata, ketika istri pertama dibelikan baju baru, maka istri kedua ketiga dan keempat pun demikian, walaupun ukurannya warnanya modelnya nilainya belum tentu sama namun sebanding.

Karena kalau harus sama semua bisa jadi istri pertama badannya lebih besar dibanding istri kedua, sehingga ketika harus dibelikan pakaian yang sama ukuran tentu tidak adil, justru sia-sia, tetapi ketika istri pertama dibelikan pakaian baru dengan ukuran yang misalnya L maka belikanlah istri kedua dengan baju baru pula yang ukurannya bisa jadi S, karena dia masih gadis sehingga badannya masih ramping.

Nilai bajunya apakah harus sama, kalau istri pertama nilai bajunya adalah Rp 500.000, haruskah istri kedua Rp. 500.000 tidak lebih walaupun sedikit, tidak berkurang walaupun sedikit?

Tidak demikian. Namun yang senilai sebanding walaupun ada selisih sedikit atau selisih banyak, karena kalau harus sama nilainya tentu sangat sulit. Sehingga definisi adil dalam berbagi dengan istri itu dikembalikan secara urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat.

Kalau istri pertama telah dibelikan baju baru, istri kedua juga dibelikan baju baru yang senilai, diberikan rumah yang layak walaupun tidak harus sama seutuhnya, tetapi sama-sama layak, tipenya, ukurannya.

Kemudian kendaraan pun sama walaupun tidak harus sama persis tetapi kurang lebih, sehingga tidak ada satupun dari istrinya merasa dia sebagai atau dianaktirikan, ada istri yang diprioritaskan, tentu ini satu kedzaliman.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihis wa Sallam memberikan ancaman kepada suami yang dengan sengaja pilih kasih kepada salah satu istrinya

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ.
Siapapun yang memiliki 2 orang istri

فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا
Kemudian dia lebih condong kepada salah satu dari istrinya, pilih kasih dengan salah satu istrinya
جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ
Maka kelak di Hari Kiamat Allah akan bongkar, Allah akan permalukan Allah akan tunjukkan di hadapan semua makhluk yang di alam mahsyar bahwa dia adalah orang yang tidak adil. Sehingga Allah bangkitkan dia dalam kondisi miring badannya ke satu sisi, miring ke kanan ataupun ke kiri.
Dalam riwayat bahwa,

وَأَحَدُ شِقَّيْهِ سَاقِطٌ
Separoh badannya jatuh sehingga dia berjalan miring ke samping atau bahkan mungkin menyeret badannya ke samping.
Semakin pilih kasih, level pilih kasih semakin menonjol semakin parah, maka kemiringan badannya pun akan semakin parah sebagai bentuk bahwa dia adalah suami yang tidak adil, dipermalukan.

Walaupun ketidakadilan dia semasa di dunia bisa jadi tidak ada yang tahu karena semua istrinya berusaha merahasiakan sikap suaminya dalam rangka menjaga keutuhan rumah tangganya, tetapi karena seringkali ketidakadilan suami kepada istrinya itu hanya diketahui oleh segelintir orang atau bahkan tidak ada yang tahu maka Allah akan beberkan di hadapan manusia kelak di hari kiamat.

Tentu ini sebagai satu ancaman betapa takutnya suami kala itu tatkala di hari kiamat di alam mahsyar kita sangat butuh untuk mendapatkan satu kebajikan saja, mendapatkan jaminan bahwa kita akan selamat dari siksa apalagi di alam mahsyar dia dibangkitkan dalam kondisi membawa dosa yang nampak.

Sehingga dari fisiknya saja sudah mencerminkan dia berada dalam kondisi yang berbahaya terancam dengan siksa, sehingga akan semakin ketakutan dia. Dalam dirinya akan begitu ketakutan sebagaimana semasa di dunia dia menjadikan salah satu istrinya terus bergelut dengan perasaan hatinya, merasa dianaktirikan merasa dinomorduakan, nomor tigakan bahkan didiskriminasikan, merasa dirinya kecil.

Sehingga ini satu penderitaan batin yang luar biasa dan itu akan dibalas di hari kiamat dengan penderitaan batin yang luar biasa pula. Begitu ketakutan, dia akan mengalami rasa takut yang luar biasa.

Ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, kurang dan lebihnya mohon maaf.

وبالله التوفيق و الهداية
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

•┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈•

Post a Comment for "Audio ke-86 Keadilan dalam Poligami Bagian Kedua - Adil Dalam Nafkah - Fiqih Nikah / Baiti Jannati"